Pergantian Tahun

Beberapa waktu yang lalu, baru saja kita menginjakan kaki di tahun baru Islam 1433 H dan meninggalkan tahun 1432 H. Demikian juga saat ini kita telah berpisah dengan tahun 2011 M dan berada di tahun baru 2012 M dengan segala moment peristiwa suka maupun duka yang telah kita lewati, dengan harapan tahun baru ini semakin mendorong kita untuk meningkatkan amal ibadah baik yang mahdoh maupun yang ghoir mahdoh disertai dengan peningkatan amal sosial dalam rangka mewujudkan bukti kecintaan antar sesama manusia.
Bagi kaum muslimin pergantian tahun tidaklah harus dirayakan dengan berbagai pesta pora apa lagi sampai meniru tradisi di luar Islam yang banyak dilakukan mereka yang tinggal di kota-kota besar yang sekarang sudah menular ke perkampungan. Media masa baik cetak maupun elektronik telah berhasil mempublikasikan pesta pora itu tanpa menyadari bahwa semua itu adalah propaganda kaum kuffar yang ingin mengajak kaum muslimin agar sama seperti mereka.
Pergantian waktu adalah sunnatullah suatu keniscayaan dalam kehidupan dunia ini baik suka maupun tidak pasti terjadi. Manusia tidak bisa menolak dan bernegoisasi dalam perubahan ini. Allah berfirman dalam surat Al-Imran:140:…Dan masa itu kami pergilirkan di antara manusia dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman…
Bahkan Allah Azza wa Jalla bersumpah dengan waktu, dalam surat Al-Ashr: Demi Masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kebaikan. (Al-ashr :1-3)
Masa Atau waktu mempunyai peran penting dalam kehidupan ini. Karenanya Allah swt bersumpah dengan waktu. Soal waktu sarat akan makna dan pelajaran yang dapat dipetik, sampai para sahabat nabi SAW selalu membacakan surat Al-Ashr ini setiap kali akan berpisah sehabis bertemu agar mereka selalu mengingat pesan Allah dalam Al-Qur’an dalam mengisi waktu, yaitu saling menasihati untuk kebenaran dan untuk kebaikan(HR.Baihaqi dari Hudzaifah).
Surat Al-Ashr mengandung pesan berharga bahwa manusia mengalami kerugian kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, beramal baik yang Allah perintahkan, dan saling berpesan untuk kebenaran dengan bekerja atas dasar syariat Allah yaitu beriman dan mengesakan-Nya, melaksanakan perinta-Nya, meninggalkan larangan-Nya ini mencakup semua kebaikan dan keutamaan. Juga manusia wajib berwasiat satu sama lain dengan dasar sabar ketika melaksanakan ketaatan dan juga sabar dalam menghadapi kemaksiatan dan dalam menerima musibah.( Al-Wajiz).
Waktu adalah makhluq Allah yang diciptakan untuk menjadi saksi bagi manusia atas apa yang mereka perbuat dan torehkan dalam jagad kehidupan ini. Karenanya manusia dilarang mencela dan menghina serta menyalahkan waktu.Menghina waktu berarti menghina peciptanya yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ungkapan syair menyinggung masalah waktu ini diantaranya “waktu bagaikan pedang bila anda tidak memanfaatkannya ia akan memotong anda.” Belajar di kala belia bagai mengukir di atas batu dan belajar di kala udah berumur bagai mengukir di atas air.
Waktu mempunyai peran yang sangat penting dalam keberhasilan dan kemajuan. Kalo kita perhatikan bangsa-bangsa barat mereka maju disamping karena penjajahan atas kaum muslimin pada masa lalu dan juga melakukan penjarahan manuskrif karya para ulama tempo dulu, mereka juga sangat disiplin dalam soal pemanfaatan waktu. Demikian juga orang Jepang mereka menjadi negara maju karena kedisiplinan mereka dalam memanfaatkan waktu, para pengamat menilai setelah Jepang menyerah karena di bom oleh Amerika dan sekutunya, diperkirakan baru akan bangkit kembali setelah melewati masa 75 tahun lebih, tetapi ternyata perkiraaan itu meleset, jepang sudah bangkit maju sebelum masa 75 tahun.
Setelah diteliti para pengamat menyimpulkan, bahwa keberhasilan Jepang bisa bangkit dari keterpurukan salah satunya adalah karena mereka sangat disiplin dalam soal pemanfaatan waktu, sampai membaca saja mereka lakukan di atas bis, di kereta dan tempat umum lainnya. Bahkan saat sedang memasak atau menggendong bayinya pun mereka tidak lupa membaca.
Bandingkan dengan kenyataan di negara-negara yang mayoritas muslim, sungguh ironis sekali, mereka sangat tidak memperhatikan waktu padahal agamanya penuh dengan pesan untuk memelihara dan memanfaatkan waktu.Budaya malas sudah menjadi rahasia umum dan menjadi tradisi yang sulit dikikis.Kebiasaan ini menjadikan kaum muslimin di dunia ini tersingkirkan dari arena kompetisi global sehingga keberaadannya tidak menjadi hitungan.
Kaum muslimin di berbagai belahan dunia lebih fasih menirukan tradisi barat atau tradisi kaum kuffar lainnya dalam berbudaya maupun berinteraksi sosial antar sesama mereka. Lebih celaka lagi yang mereka tiru bukan sesuatu yang positip malah lebih banyak yang negatifnya. Sehingga seorang penulis muslim kenamaan menulis buku berjudul “Limadza Taakharal Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum (Kenapa Kaum Muslim Mundur sedangkan Non Muslim Maju).
Ajaran Islam yang sangat indah yang menyinggung berbagai segi kehidupan menjadi tidak terbukti keindahannya karena prilaku para penganutnya yang tidak mencerminkan keislaman mereka. Sehingga keluarlah ungkapan “Al-Islamu Mahjuubun bilmuslimin” (Islam itu terhalang oleh para pemeluknya). Ketinggian dan kesucian serta keindahan ajaran Islam tidak pernah terlihat dan dirasakan oleh manusia.
Langkah yang paling tepat dan bijak adalah kembali kepada Islam dengan kembali mempelajari ajaran Islam yang Indah ini dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari sambil terus memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan amal-amal shaleh, meningkatkan kwalitas keilmuan dan beramar makruf nahi munkar (watawashaubilhaq dan watau bishabri).Wallahu a’lam bishawab.

Categories: Tsaqofah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: