Syi’ah Mengkafirkan Kaum Muslimin


Sesungguhnya Islam adalah agama yang bermanhaj Rabbani, dimana seluruh aktivitas kehidupan manusia diatur dalam konsep Al-Quran dan As-sunnah yang menjadi pedoman kehidupan manusia, hingga dalam berbicara sekalipun ada aturan dan etika yang telah digariskan. Karena itu, tidak ada suatu ucapan pun yang terucap melainkan pasti ada dua malaikat di dekatnya yang selalu mengawasi dan mencatat ucapan tersebut, hingga kemudian akan diperhitungkan di sisi Allah swt kelak pada hari kiamat.

Sedemikian rapinya Islam mengatur kehidupan manusia, namun eronisnya masih ada saja sekelompok orang atau lebih dengan entengnya mengumbar lisan mereka untuk menghina, melaknat, dan mencaci maki, apalagi jika yang menjadi objek hinaan , laknat, dan cacian tersebut adalah orang-orang mulia sekelas sabahat nabi Muhammad saw dan istrinya, para manusia pilihan yang telah mendapat rekomendasi kebaikan dan keridhaan dari Allah swt di dalam Al-Quran, lebih dari itu mereka telah menduduh ummul mukimin Aisyah ra istri Rasulullah saw dengan tuduhan-tuduhan keji. Sehingga tak lepas para sahabat nabi terutama khulafa rasyidin selain daripada Ali bin Abi Thalib mereka juluki dengan julukan buruk yang tidak sepatutnya mereka sandang.

Hal itu kerena mereka mengmbangun agama dan pemahaman mereka di atas kebodohan, cara pandang yang salah, aqidah yang bathil dan cerita-cerita palsu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenaran, keabsahan, dan validitas sumbernya.
Oleh kerena itu, laknat, tuduhan, dan hinaan yang telontar dari sebagian orang syi’ah tersebut membuat kami sedih, seolah-olah mereka diciptakan hanya untuk melaknat.
Orang terkadang tidak mampu mengontrol ucapannya, sehingga dengan ringat melaknat apa saja. Melaknat orang, melaknat binatang, melaknat benda-bennda mati, atau melaknat hari dan zaman, bahkan tak jarang ada yang melakna dirinya sendiri atau anak-anaknya. Suami melaknat istri atau sebaliknya. Padahal patut di fahami bahwa melaknat adalah perbuatan mungkar dan berbahaya.

Rasulullah saw bersabda: “orang Islam adalah orang yang kaum muslimin aman dari (gangguan) lisan dan tangannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits marfu’ Rasulullah bersabda: “Dan barangsiapa melaknat seorang mukmin, maka ia seperti membuhnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: dikatakan kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, berdoalah untuk kejelekan orang musyrik”, lalu beliau bersabda, “sesungguhnya aku diutus bukan sebagai tukang laknat, tetapi aku diutus untuk membawa rahmat (HR. Muslim).

Dalam hadist lain Rasulullah saw bersabda: “janganlah kalian suka melaknat dengan laknat Allah, dan kemurkaan-Nya dengan neraka. (HR. at-Turmudzi, Hasan, no 1977).

Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu maka laknatnya akan naik ke langit, pintu-pintu langit di tutup kemudian laknat tersebut kembali turun ke bumi dan pintu bumi pun di tutup. Lalu laknat tadi pergi ke arah kanan dan kiri. Jika tidak ada pintu masukya maka kembali kepada orang yang dilaknat dan jika ternyata orang yang dilaknat tidak berhak mendapatkannya maka laknat tersebut kembali kepada yang melaknatnya”. (HR. Abu Daud, Hasan lighairihi. No 4905).

Inilah petunjuk nabi Muhammad saw yang menjadi pedoman hidup para khulafaurrosyidin, dan kaum muslimin. Bahkan Ali bin Abu Tholib ra berkata kepada para pengikutnya:
إني أكره لكم أن تكونوا سبابين
“sungguh aku tidak suka kalian menjadi tukang pencela”

Disamping itu, perbuatan gemar melaknat bisa menutup peluang bagi pelakunya untuk memberi syafa’at pada hari kiamat, apalagi jika laknat tersebut terlontar secara nyata, maka bisa berbalik arah pada dirinya sendiri dan tanpa sadar ia telah mendoakan keburukan atas dirinya sendiri agar diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah swt. Na’udzu billah min dzalik.

Dan akan lebih berbahaya jika yang mencela dan mencaci tersebut adalah orang-orang
yang dianggap sebagai ulama. Beritu kami sampaikan beberapa perkataan ulama syi’ah yang kami kutip dari kitab-kitab induknya, dan sangat mustahil jika buah pena yang tertuang dalam kitab-kitab tersebut bukan termasuk ajaran dan ideology yang selama ini mereka yakini!

Syekh Husain Ali ‘Usfur ad-Darari al-Bahrani, dalam kitabnya Al-Mahasin al-Nafsaniyyah fi ajwibah al-Masail al-Hurrasaniyah, hal. 147. Orang-orang syi’ah menjuluki orang-orang sunni atau ahlu sunnah dengan an-Nashibah (pembangkang). Menurut keyakinan syi’ah mereka lebih najis daripada anjing dan lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani. Dia menuliskan:
بل أخبارهم عليهم السلام تنادي بأن الناصب هو ما يقال له عندهم سنيا.
“Bahkan kabar-kabar dari mereka (para imam) alaihissalam menyerukan bahwa yang dimaksud an-Nashib adalah yang dikenal oleh kalangan mereka sebagai sunni”.

Al-Majlisi, dalam Bihar al-Anwar, juz 101/85: Abu Abdillah berkata: “sesungguhnya Allah swt telah dulu melihat orang-orang yang menziarahi kuburan Husain bin Ali pada sore hari Arafah”. Beliau ditanya: “(apakah) sebelum melihat orang-orang yang sedang wukuf?” beliau menjawab:
لأن في أولئك أولاد زنا وليس في هؤلاء أولاد زنا.
“ya, ditanya lagi, “bagaimana bisa begitu? ” beliau menjawab: “kerena di tengah-tengah mereka (orang-orang yang wukuf di Arafah) terdapt anak-anak zina dan tidak ada di tengah-tengah mereka (penziarah kuburan Husain) anak-anak zina”.

Al-Kulaini, dalam ar-Raudhah min al-Kaafi, juz v111/285, menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Abdillah yang berkata kepada Abu Hamzah:
والله يا أبا حمزة، إن الناس كلهم أولاد زنا ما خلا شيعتنا.
“Demi Allah hai Abu Hamzah: Sesungguhnya manusia seluruhnya merupakan anak-anak pelacur kecuali syi’ah kita”.
Padahal Allah swt berfirman:
إن اللذين يرمون المحصنات الغافلات المؤمنات لعنوا في الدنيا والأخرة ولهم عذاب عظيم.
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik, yang lengah lagi beriman (dengan tuduhan-tuduhan berbuat zina), mereka dilaknat di dunia dan kahirat, dan bagi mereka azab yang besar” (QS. An-Nur: 23)

Muhammad At-Tijani, dalam kitabnya Asy-Syiah hum Ahlu sunnah, hal. 161, beliau terang-terangan mengungkapkan bahwa an-Nawashib (yang mereka kafirkan dan musuhi) adalah Ahlu sunnah wal jama’ah. dia berkata:
وعني عن التعريف بأن مذهب النواصب هو مذهب (أهل السنة) فناصر مذهب النواصب المتوكل
هونفسه “محيي السنة” فافهم.
“Tidak perlu di definisikan lagi bahwa yang disebut kelompok an-Nawashib (penjahat) adalah madzhab ahlu sunnah wal jama’ah. Fahamilah sesunguhnya Al-Mutawakil yang bergelar “muhyis sunnah” (pembela sunnah) itu sendiri adalah tokoh pembela madzhab an-Nawashib (madzhab penjahat)”.

Menurut keyakinan at-Tijani mayoritas ahlu sunnah telah menyimpang ari keluarga Rasulullah saw. Ia menjuluki al Mutawakkil sebagai tokoh utama an-Nawashib (yang memusuhi) Ali dan ahlul bait. Bahkan dia menganggap kedengkian al-Mutawakkil sudah sampai pada batas membongkar makam Husain, melarang menziarahinya, dan membunuh orang yang menggunakan nama Ali.

Al-khawarizmi dalam rasailnya juga menyebutkan bahwa al-Mutawakkil tidak mau memberikan harta tau segala bentuk bantuan kecuali kepada orang yang mencela keluarga Ali bin Abi Tholib dan membela madzhab an-Nawashib.

Muhammad al-‘Asyasyi, dalam tafsir al-‘Asyasyi, juz II/398. Menukil riwayat dari Ibrahim bin Abi Kayyisa Yahya, dari Ja’far binn Muhammad, berkata: “tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali ada iblis yang mendatanginya. Jika Allah mengetahui bahwa dia termasuk syi’ah kami maka Allah akan menghalanginya dari syetan tersebut. Namun
jika bukan dari syi’ah kami maka syetan akan menancapkan jari telunjuknya di duburnya, lalu dia menjadi orang yang buruk, oleh karena itu buah dzakarnya keluar di depan, dan jika dia seroang perempuan, syetan akan menancapkan jari telunjuknya di kemaluannya hingga dia menjadi pezina. Di saat itulah seorang bayi menangis keras ketika keluar dari perut ibunya. Dan setelah itu Allah menetapkan dan menghapus apa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dialah dzat yang memiliki ummul kitab (kitab pencatatan taqdir makhluk)”.

Ni’matullah al-Jazairi, dalam al-Anwar an-Nuaimaniyah, juz II/hal. 307:
– Diriwayatkan dari nabi Muhammad saw bahwa ciri an-Nawashib adalah mendahulukan selain Ali dalam perkara imamah (sepeninggal Nabi Muhammad saw).
– Para imam dan ulama syi’ah menyandangkan gelar an-Nawashib kepada Abu Hanifah yang semisal beliau.
– Mereka menghalalkan darah dan harta ahlu sunnah untuk dibunuh dan dirampas. Diriwayatkan oleh ash-shoduq, ia bertanya kepada Abu Abdillah: “Apa pendapat anda tentang membuhuh seorang nashibi (ahlu sunnah)? Ia menjawab: halal darahnya (untuk dibunuh), namun aku khawatir atas (keselamatan) dirimu. Jika kamu bisa merobohkan dinding (untuk ditimpakan) diatasnya atau menenggelamkan dia ke dalam air agar tidak ada lagi yang dapat memberikan kesaksian yang bisa memberatkanmu, maka lakukanlah”. Aku bertanya lagi: “lalu bagaimana pendapat anda tentang hartanya? Ia menjawab: jika kamu bisa rampasalah hartanya”.

– Menurut syi’ah ahlu sunnah adalah an-Nawashib (para penjahat), oleh karena itu mereka selalu menanti-nanti kesempatan untuk dapat membuhuh ahlu sunnah dan merampas harta mereka.

Muhammad bin ya’qub al-Kulaini, dalam kitabnya al-Ushul min al-Kaafi, juz II/hal. 410, menghina penduduk Makkah dan Madinah:
إن أهل مكة ليكفروا بالله جهرة وإن أهل المدينة أخبث من أهل مكة، أخبث منهم سبعين ضعفا
“sesungguhnya penduduk Makkah benar-benar kafir kepada Allah secara nyata. Dan sungguh penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Makkah, lebih buruk tujuh puluh kali lipat”.

Ni’matullah al-Jazairi, dalam kitab Nuur al Barahin, hal. 57, menyebutkan bahwa setiap kelompok yang menyelisihi sekte syi’ah imamiyah, berdasarkan nash (teks religius) yang banyak sekali, menunjukan bahwa mereka kekal di neraka. Dan ikrar syahadat mereka tidak bermanfaat sama sekali kecuali hanya sekedar menjaga darah dan harta mereka, begitu pula pelaksanaan hukum-hukum Islam yang berlaku bagi mereka.

Muhammad Jawwad Mughinyah, dalam hadzihi hia al-Wahabiyah, hal 75: menuduh wahabiyah (pengikut dakwah tauhid Muhammad bin Abdull Wahab) meyakini sihir.
ويعتقد الوهابية بالسحر، وتعلم السحر عندهم سهل للغاية بشرط أن يكفر الإنسان، ويأتي بأعظم المعاصي مثل أن يضع المصحف الشريف في كنف ونحوه.

“Wahabiyah mayakini (mengimani) sihir dan tukang sihir. Belajar sihir bagi mereka sangat mudah sekali untuk sebuah tujuan dengan syarat harus mengkafirkan orang lain, dan melakukan kemaksiatan besar seperti meletakkan mushaf yang mulia di toilet dan semisalnya…”

Al-Hurr al-Amili, dalam wasail as-syi’ah, juz XV/31, menyatakan bahwa kematian syahid hanya milik syi’ah semata. Dari Abdullah bin Sinan berkata: aku bertanya kepada Abu Abdillah: “aku berumpah kepada Allah untukmu, apa pendapatmu tentang orang-orang yang terbunuh di medan jihad ini (Palestina)? Ia menjawab:
الويل يتعجلون قتله في الدنيا وقتله في الأخرة، والله ما الشهيد إلا شيعتنا ولو ماتوا على فراشه
“Celaka! Mereka menyegarakan diri untuk terbunuh di dunia dan akhirat, demi Allah tidak akan menjadi syahid kecuali syiah kita saja walaupun mereka meninggal di atas ranjangnya”.

Yusuf al-Bahrani, dalam al-hadaiq an-Nadzirah fi ahkam al-‘Itrah, hal. 136, dalam bab orangyang meyelisihi (syi’ah), hakikatnya bukan orang Islam, dan sesungguhnya orang yang menyelisihi (syi’ah) sebenarnya adalah kafir. Ia tidak membedakan antara kufur kepada Allah dengan kufur kepada para imam, dengan alasan bahwa imamah termasuk masalah ushuluddin (prinsip agama) berdasarkan teks ayat dan hadist yang sangat jelas. Diantara pernyataannya:
أولا: أنك عرفت أن المخالف كافر، لا حظ له في الإسلام بوجه من الوجوه، كما حققنا في كتابنا (الشبهات الشاق).
“Pertama: perlu kamu ketahui bahwa orang yang menyelishi (syi’ah) adalah kafir, dia tidak menjadi bagian dalam Islam dari sisi manapun, hal tersebut telah kami tandaskan dalam kitab kami as-Syihab al-Tsaqib”.

Al-Khulaini, dalam at-Ta’adul wa at-Tarjih, hal. 171, menyatakan bahwa prinsip ajaran syi’ah adalah menyelisihi ahlu sunnah.
قال: ينظر ما وافق حكمه الكتاب والسنة وخالف العامة فيؤخذ منه ويترك ما خالف الكتاب والسنة ووافق العام.
“Perlu ditinjau, bahwa suatu perkara yang hukumnya sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah hendaklah dipegang (diambil), sebaliknya sesuatu yang hukumnya bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah namun sesuai dengan umumnya ahlu sunnah hendaklah ditinggalkan”.

Khumaini juga perna ditanya tentang dua orang faqih yang saling berbeda pendapat dan keduanya sama-sama mengerti al-Quran dan as-Sunnah, dimana faqih pertama memilik pendapat yang sama dengan umumnya ahlu sunnah sedangkan yang kedua menyelisihinya, mana yang harus diambil? Ia menjawab:
ما خالف العامة ففيه الرشاد
“pendapat yang menyelisihi ahlu sunnah terdapat petunjuk”.

Muhammad bin al-Hadan al-Thusi, dalam kitabnya tahdzib al-Ahkam, juz III/197, menyebutkan bahwa salah satu dari imam mereka Abu Abdillah pernah mensholatkan jenazah seorang munafiq (mereka menisbatkan sebutan munafiq kepada ahlu sunnah), dan mengucapkan laknat di dalamnya:
اللهم العن فلانا عبدك ألف لعنة مؤتلفة غير مختلفة، اللهم أخز عبدك في عبادك وبلادك وأصله حر نارك وأذقه أشد عذابك فإنه كان يتولى أعداءك ويعادي أولياءك يبغض أهل بيت نبيك.
“Ya Allah, laknatlah hamba-Mu fualan dengan seribu laknat yang terhimpun sekaligus bukan terpisah-pisah. Ya Allah, hinakanlah hamba-Mu ini yang berada di tengah-tengah hamba-hamba-Mu dan negeri-Mu, bakarlah dia dengan panasnya neraka-Mu, dan buatlah dia merasakan pedihnya adzab-Mu, karena dia telah mengangkat musuh-musuh-Mu sebagai pemimpin, memusuhi para wali-Mu, dan membenci keluarga nabi-Mu”.

Jadi jangan heran jika melihat orang syi’ah ikut serta dalam menshalatkan jenazah muslim sunni, lalu ia mengucapkan kalimat laknat di dalamnya, karena menurut mereka sertiap orang yang menyelisihi syi’ah adalah munafiq.
Muhammad bin Umar al-Kussyi, dalam rajal al-Kussyi, hal 199, menyebutkan bahwa kelompok syi’ah Zaidiyyah digolongkan oleh syi’ah itsna Asy’ariyah sebagai an-Nawashib (para penjahat dan pembangkang yang berdosa). Dimana al-Kussyi menyebutnya dengan ungkapan az-Zaidiyah hukum an-Nawashib (Zaidiyah adalah nawashib).

Muhammad bin Ali Ridho ketika ditanya tentang maksud Q.S. al-Ghosyiah: 2-3: “banyak muka pada hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan”. Ia menjawab: ayat turun untuk para nawashib, dari kelompok syi’ah zaidiyah dan orang yang mendiamkan nawashib.

Muhsin al-Muallim, dalam kitabnya an-Nushbu wa an-Nawashib, hal. 609, menyebutkan sejumlah tokoh yang tergolong dalam sebutan an-Nawashib, diantaranya: Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan mayoritas sahabat Nabi radiallahu anhum. Kemudian imam Malik, dan al-Bukhari Rahimahullah, setelah itu ia menvonis kafir mereka seraya berdalil pada fatwa-fatwa ulama syi’ah seperti:
قال السيد الخوني رضوان الله عليه: والأظهر أن الناصب في حكم الكافر ون كان مظهرا للشهادتين والاعتقاد بالمعاد.

“Sayyid al-Khu’I berkata: pendapat yang paling kuat bahwa an-Nashib (pembangkang yang berdosa) dihukumi kafir meskipun ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengimani hari akhir”.
وقال السيد الصدر فيمن استثناهم من نجاسة الكافر فعد لهم أهل الكتاب والغلة ثم ذكر النواصب، فقال: وكذلك النواصب الذين ينصبون العداء لأهل البيت الذين أذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا فإن هؤلا الغلاة والنواصب كفار ولكنهم طاهرون شرعا ما داموا ينسبون أنفسهم إلى الإسلام.
“Sayyid ash-Shadr berkata tentang orang-orang yang dikhususkan dalam najis ma’nawi, (bukan najis dzahir), maka ia pun memasukkan diantaranya: ahlul kitab, ghulat (ekstrimis/pemberontak). Kemduaian ia menyebutkan an-Nawashib, dan berkata: “begitu juga an-Nawashib ang menyatakan permusuhannya kepada ahlul bait yang telah dixucikan najisnya oleh Allah dan dibesihkan sebersih-bersihnya.

Sesungguhnya para pemberontak dan nawashib tersebut adalah kafir, namun mereka tetap suci secara syari’at selama mereka mengatasnamakan diri mereka sebagai muslim”.
وقد استدل بما رواه ابن أبي يعفور في الموثيق عن أبي عبد الله في حديث قال: ” وإياك أن تغتسل من غسالة الحمام، ففيها غساله اليهودي، والنصراني، والمجوسي، والناصب لنا أهل البيت فهو شرهم فإن الله تبارك وتعالى لم يخلق خلقا أنجس من الكلب، وإن الناصب لنا أهل البيت لأنجس من الكلب.
“Berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’fur dalam al-Mautsiq, dari Abu Abdillah dalam sebuah, ia berkata: “janganlah kalian mandi di pemandian umum, karena di dalamnya terdapat air bekas orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan an-Nashibi yaitu orang yang memusuhi kami ahlul bait. Dialah (an-Nashib) makhluk yang paling buruk, karena sesungguhya Allah swt pernah menciptakan makhluk yang lebih najis daripada anjing, dan sesungguhnya orang yang memusuhi kami ahlul bait benar-benar lebih najis daripada anjing”.

Al-Majlisi dalam bihar al-Anwar, juz 37/34, menyebutkan bahwa kelompok syi’ah zaidiyah dan orang-orang semisal mereka adalah kafir, mereka keluar dari Islam, berdasarkan riwayat-riwayat yang terpecaya di kalangan mereka.

Dalam juz ke 23, hal. 390 dari buku tersebut, dinyatakan bahwa seluruh kaum muslimin yang tidak meyakini keimanan para imam dua belas (maksudnya selain syi’ah) adalah kafir, sesat, dan kekal dalam neraka. Berikut pernyataannya:
اعلم أن إطلاق لفظ الشرك والكفر على من لم يعتقد إمامه أمير المؤمنين والأئمة من ولده عليهم السلام وفضل عليهم غيرهم يدل على أنهم كفار مخلدون في النار.
“Ketahuilah bahwa penyebutan lafadz syirik dan kufur diatas orang yang tidak menyakini ke imamah-an amirul mukminin (Ali bin Abu Tholib) dan para imam sesudahnya dari anak keturunannya serta lebih mengutamakan yang lain daripada mereka, menunjukan bahwa orang-orang tersebut adalah kafir dan kekal di dalam neraka”.
قال الشيخ المفيد قدس الله روحه في كتاب المسائل: اتفقت الإمامية على أن من أنكر إمامة أحد من الأئمة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فرض الطاعة فهو كافر ضال مستحق للخلود في النار.

“Syekh al-Mufid dalam kitab al-Masail berkata: kelompok syi’ah imamiyah bersepakat bahwa orang yang telah mengingkari keimamah-an satu diantara dua belas imam syi’ah dan membelot dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepadanya berupa hak taat kepada imam, maka ia telah kafir dan sesat, serta pantas untuk kekal di dalam neraka”.

Taqrir abhats al-Khuu’I, dalam Mishbah al-Faqahah fil mu’amalat, dalam bab hurmah al-Ghaibah masyruthah bil imam, hal 11 menyebutkan:
“Bahwa maksud dari mukmin disini adalah orang yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya, hari akhir yang dijanjikan, dan berimankepada para imam dua belas. Diawali dari Ali bin Abu Tholib, dan diakhiri dengan al-Qaaim al-Hujjah al-Muntadzor (yang ditunggu-tunggu) semoga Allah menyegerekan kemunculannya dan semoga Allah menjadikan kita sebagai kawan dan pembelanya. Dan barangsiapa yang mengingkari salah seorang diantara mereka maka ia terkena beberapa hokum”:

Pertama: disinyalir dalam berbarapa riwayat, (anjuran) untuk melaknat para penyimpang dalam setiap doa dan ziarah, wajib berlepas diri dari mereka, memperbanyak cacian, celaan kepadanya, dan membunuhnya. Karena mereka termasuk ahli bid’ah dan orang yang ragu.

Bahkan tidak ada keraguan atas kekafiran mereka, karena telah mengingkari wilayah dan kepemimpinan para imam, meski hanya ingkar terhadap satu imam saja diantara mereka, dan meyakini kekuasaan selainnya…..(itulah) yang menyebabkan kekafiran dan kezindikan. Hal ini berdasarkan pada hadits-hadits mutawatir yang sangat jelas menghukumi kafir atas orang yang mengingkari al-Wilayah (kekuasaan para imam). Inilah keyakinan syi’ah yang tergambar dalam diri al-Kuu’I, salah seorang ulama dan tokoh mereka.

Dimana Allah telah membuatnya berbicara tentang keyakinan mereka dalam kitab ini. Ia mengkafirkan setiap orang yang tidak beriman kepada aqidah mereka. Laknat dan celaan pun senantiasa menghiasi dirinya.
Al-Maamiqani, dalam tahqiq al-Maqol fil ilmi al-Rijal, dalam faidah yang ke 20, hal. 208, ia menukil dari al-Muhaqqiq al-Baharani dan banyak riwayat lain, bahwa orang yang bukan syi’ah itsna asy’ariyah (rafidhah) adalah kafir dan musyrik.

Demikian beberapa penjelasan dari sekian banyak penyimpangan syi’ah dalam mengkafirkan kaum muslimin yang bersumber langsung dari kitab-kitab induk yang menjadi pedoman dasar mereka. Secara logis sangat tidak mungkin sekali jika tulisan-tulisan yang tertuang dalam kitab-kitab tersebut bukan dari hasil doktrin yang mereka yakini, oleh karena itu, setelah anda membaca dan memahami penjelasan diatas maka sudah semestinya bagi anda untuk senantiasa berhati-hati dan waspada dari bahaya ajaran syi’ah dan perangkapnya.

Wallahu a’lam bisshowab.

Categories: Tsaqofah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: